Sore itu hujan masih memaksa kami untuk tetap duduk di bangunan tua kampus. Terjebak dalam kesunyian karena berada di lantai paling atas bangunan itu. Hembusan angin mulai membuka perbincangan kami. Kami mulai bercerita tentang hidup, sebuah masa depan, cita cinta, harapan dan sebuah keinginan yang sangat kami idamkan. Sore itu masih sempat saya lihat warna langit yang masih tampak cerah karena baru disambangi hujan, dengan sedikit gumpalan awan lembut yang masih menghiasi. "Sore yang damai", gumam saya.
_____________________________________________________________________________________
Sebut saja dia Anji, mahasiswa senior di jurusan kami tempat kami menimba ilmu. Sekilas dari luar, bisa dibilang dia merupakan salah satu lulusan terbaik, cerdas, intelektual dan juga merupakan sosok yang saya kagumi. Well, overall dia merupakan lelaki yang brilliant. Tetapi banyak hal yang ternyata menjadi sebuah misteri dalam hidupnya yang sempat membuatnya stuck dalam keadaan yang sangat ia anggap salah.
Dia mulai bercerita tentang hidupnya 4 tahun yang lalu, ya tepat di Tahun 2007. Saat itu Anji merupakan siswa kelas 2 salah satu SMA Negeri favorit di Jogjakarta. Sejak duduk di bangku pendidikan yang pernah dia tempuh, dia memang terkenal sebagai laki-laki yang supel, pendiam, namun sangat cerdas dan pintar, tetapi dia mengaku kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dia mulai bercerita tentang sebuah peristiwa yang sempat menjadi momok dalam hidupnya. Peristiwa dimana dia harus menjadi laki-laki yang selalu merasa terpuruk dan peristiwa yang selalu ia sebut dengan mimpi buruk. Keadaan yang sangat menganggu hati dan pikirannya itu terjadi saat dia hendak pulang sekolah. Anji tidak pernah menyangka bahwa siang itu akan menjadi hari terburuk dalam sejarah hidupnya saat itu. Saat ia sedang fokus dengan perjalanannya dan berharap lekas sampai rumah, tiba-tiba muncul segerombolan orang bermotor (gankster) yang tidak ia kenal mendekatinya dan memukul kepalanya dari belakang. Anji tidak bisa menangkis atau bahkan menghindar dari pukulan tersebut, dan takdir membawanya dalam suatu keadaan yang sangat kritis. Kepalanya terbentur trotoar dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan penuh luka serta kucuran darah pada pelipis mata dan kepala sebelah kanannya. Anji kritis dan terpaksa mendapatkan perawatan secara serius selama beberapa bulan hingga dokter memvonisnya bahwa musibah tersebut membuatnya harus kehilangan penglihatan pada mata kanannya.
Takdir memang bisa dirubah selama manusia masih mau berusaha sekuat tenaga, tetapi apakah mungkin mengembalikan syaraf-syaraf matanya untuk kembali melihat? Bahkan dokter yang merawatnyapun merasa tidak mampu mengembalikan penglihatannya seperti sediakala. Semenjak itu hatinya terguncang, apakah mampu dia bertahan melalui hari-harinya dengan menggunakan satu matanya. Sekejap, hilanglah satu keceriaannya, hidupnya dipenuhi dengan kemurungan dan menjadikannya pribadi yang tertutup, penuh dengan beberapa misteri yang dipendamnya. Marah, takut, minder itu yang dia rasakan saat itu, tetapi satu hal yang membuatnya tetap mencoba berdiri saat itu, dia hanya percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkannya sendiri.
Anji mulai bangkit dalam keterpurukannya, dan hari kelulusanpun tiba. Hey, dia masih tetap menjadi Anji yang pintar, cerdas, dan berbudi. Dia lulus dengan hasil yang memuaskan, dan usahanya untuk mencapai hasil terbaik tersebut membawanya untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan Universitas Negeri di Yogyakarta pun siap menerimanya menjadi salah satu mahasiswa terbaiknya. Hal tersebut tidak cukup membuatnya bahagia saat itu, kembali teringat masa-masa terburuk yang pernah ia alami. Melanjutkan studi di bidang kedokteran menjadi cita-citanya sejak dulu, tetapi keterbatasannya membuatnya mundur dan memutuskan untuk memilih program studi lainnya. Arsitektur, program studi kedua yang dia pilih. Lagi-lagi keterbatasan fisiknya membuat nyalinya menciut, sedangkan petinggi universitas tidak mempermasalahkan keterbatasannya dengan beberapa pertimbangan. Sejenak dia berfikir, apakah keterbatasan fisiknya membuatnya berhenti untuk berjuang? Berhenti untuk menjadi pribadi hebat dan luar biasa? Dia adalah pecundang jika dia terus merasa terpuruk dalam keadaan yang saat itu ia alami, pikirnya. Dengan penuh keyakinan dan tekat, dia memutuskan untuk melanjutkan cita-citanya, tetapi kali ini Ekonomi Manajemen-lah yang menjadi pilihan untuk melanjutkan studinya. Akhirnya Anji resmi menjadi mahasiswa program studi manajemen di salah satu universitas swasta terkemuka di Kota Yogyakarta.
*Bersambung......