Minggu, 24 Juni 2012

Rindu itu Istimewa

Yang tersisa selain berdo'a adalah merindunya. Pagi ini bukan galau yang aku rasa, bukan rasa sesak yang menghambat pernafasanku karna asma, bukan juga rasa resah menanti kekasih yang tak ada kabar. Pagi ini aku hanya merindu, dan selalu merindu. Mencoba mengingat pelukan hangatnya untukku saat aku takut, memelukku saat aku masuk dalam daftar juara kelas di sekolah, atau memelukku karna ingin pergi jauh. Tak lagi kurasakan semuanya, memeluknya saat ini adalah mustahil. Ah sudah, untuk apa aku ungkap semuanya? Aku tak ingin membuatnya cemas. 

retrieved image from : http://eshaa09.student.ipb.ac.id/files/2012/02/ayahQ.jpg
Hanya saja, aku masih ingin merindu masa laluku, masa dimana selalu ada tangan-tangan lembutnya penuh cinta menggandengku semasa anak-anak, memelukku semasa remasa dan merangkulku saat dewasa. Kini, yang aku ingat adalah sosok ayah yang selalu menggambarkan kehidupan dengan sebuah lukisan indah hingga aku bisa berkata "aku siap menatap masa depan", meyakinkan aku bahwa hidup itu tidak selamanya keras. Katanya "tentukan hidupmu sendiri dengan pena yang Tuhan beri, biarlah Tuhan yang menghiasnya dengan warna-warna yang Ia punya."  Hal itu yang selalu membuatku rindu padamu, ayah. Merindumu begitu istimewa. 


 Di balik selimut, June 24, 2012 
Copyright©2012. Nia Setia Astuti.           

Kamis, 21 Juni 2012

Untukmu, Nafasku yang Hilang


Pergi dan tersenyumlah, 
Seperti senyum Tuhan yang setia mengiringi sang fajar,
Pergi dan berbanggalah,
Seperti banggaku kepada jejak-jejak hidup indahmu.


Pergi dan bersuka citalah,
Karena kini tiada lagi beban yang akan merisaukanmu,
Pergilah bersama angin senja yang hangat,
Pergilah untuk sebuah keabadian suci nan berarti,


Pergi, pergi dan tetap tersenyumlah,
Karena Dia akan selalu memluk hangat jiwa rentamu.


Untukmu, nafasku yang hilang
Berlalulah dengan segala bahagia dan suka cita,
Rengkuh segala cinta-Nya,
Tabur berjuta senyum indah dari singgasana surga.

Original Post and Creator : Nia Setia Astuti
(Jogja, 21 Juni 2012)

Jumat, 15 Juni 2012

Melodi di Bulan Juni

Seperti biasa, fajar selalu menyapa dengan hangat dan lembut, dan tak heran jika senja melambaikan kalimat-kalimat mesra menutup perjumpaanku hari ini. Begitulah mereka, saling melengkapi dan saling memberikan rona indah di setiap hari-hariku. Samar kali ini ku tatap wajahmu, terlihat letih namun masih bisa kulihat kau datang bukan untuk mengeluh, bukan untuk mengumbar kalimat sampah atau sekedar meluapkan segala kegelisahan yang kau rasakan. Kau hanya ingin datang membagi cinta, cerita, dan kau membagi sedikit sayang itu kepada ku, kepada kami. Pernah ku bertanya dalam hati, pernah kau lelah dengan semua ini? tentu kau hanya bisa tersenyum dan menjawabnya lirih "Aku selalu merindumu dan aku hanya ingin membuatmu tersenyum." Kalimat itu yang selalu ku ulang. Tanyamu, "Kau bosan?" dan mungkin akan ku balas dengan sebuah gelengan kepala ringan tanda aku tak ingin kau menanyakan itu. Aku tahu, cintamu mungkin bisa dikatakan suci atau entah apalah orang bilang, tapi untukku kehadiranmu yang selalu tepat waktu cukup membuatku berfikir dua kali untuk memalingkan badan dan hidupku darimu.

Sempurnanya engkau. Ku kagumi dengan rentetan kalimat-kalimat keagungan yang tercurah hanya untukmu. Kali ini kau sungguh mempesona, membuatku tak henti-hentinya terperangkap dalam zona keindahanmu. "Mengapa kau diam kali ini?" ku dengar suara lirihmu itu, namun aku enggan menjawab segala pertanyaan yang kau luncurkan dan tahukah kamu, aku hanya ingin menikmati ini semua denganmu tanpa banyak teori dan aplikasi-aplikasi yang harus kau terapkan dalam hidup kita. Ku tatap jauh kedalam wajahmu, tak dapat ku temui dimana kelemahan-kelemahanmu, sama seperti beberapa tahun lalu, saat aku terbangun dari tidurku dan kau satu-satunya zat yang membuatku merasa paling beruntung, beruntung mengenalmu dan beruntung menjadi bagian dari hidupmu. "Boleh ku ulang ucapanmu dengan sedikit koreksi dariku?" anggukan pelanmu tentu saja tanda kau setuju, hari ini aku hanya ingin kamu mendengar dan mengerti "Aku akan selalu merindumu dan aku hanya ingin membalas senyumanmu." Berdiri aku di sini, ku gantungkan segala asa yang penuh kepadamu, semoga kau tetap menjadi apa yang kau ingini dan menjadi apa yang ku mau dan di tempat ini kau selalu memelukku dengan hangat dengan penuh perhatianmu, senja. 

Jumat, 11 Mei 2012

Kalimat Pagi

Sumber Foto : http://www.designzzz.com/gorgeous-sunrise-photography/
Pagiku datang dengan ceria hari ini. Mulai ku persiapkan diri menapaki tangga-tangga masa depanku. Ku sambar beberapa potong roti yang ditawarkan di atas meja. Penuh sensasi pagi ini. Menatap monitor yang nampak berseri dan mulai meraba lembut mouse yang ada di sampingnya. mulai bercinta aku dengan kehidupan maya. Adakah orang untuk ku sapa pagi ini? Ku palingkan pikiranku atas itu, ku mulai menggerakkan tikus komputer itu secara perlahan, mencari berita menarik pagi ini. Ah, hanya bad news yang aku temui.  Ku lumat beberapa gigitan roti dalam mulutku, ku nikmati juga susu hangat dalam gelas tinggi di sampingku. Tak lama, berdering ponsel itu dan ku lirik perlahan, satu pesan dalam BlackBerry Messenger ku "Selamat Pagi Sayang". Ku hiraukan, karna ku tau harinya hanya untuk mengucap sepenggal kalimat itu. 
Beranjak dan mulai membuka sinaran-sinaran lembut yang membelai kulit, senyuman hangat merekah dan sedikit kecupan mesra di keningku. Kenapa tidak kunikmati saja sedikit lagu pembangkit selera? Michael Learns To Rock menemani pagi ini.Ya, mulai merasa damai. Namun rasa takut mulai datang secara tiba-tiba dan tanpa sekedar memberikan isyarat. Bagaimana tidak, bukankah semuanya bisa berakhir secara cepat dan tiba-tiba? Sama seperti aku kehilanganmu, kehilangan mimpi-mimpi indah semalam atau juga akan kehilangan pelukan hangatmu. Tetapi sama seperti hari ini, aku  masih bisa memelukmu erat, mengaitkan berjuta mimpi dan harapan di ujung kehadiranmu. Pikirku tak berhenti berucap kepadamu, menyanyikan lirih lagu yang ku dengar sekarang You took my heart away , When my whole world was gray .You gave me everything and a little bit more. Aku mungkin sedikit takut kehilanganmu esok atau suatu saat nanti, tapi keteguhanmu pada-Nya membuatku percaya bahwa kau akan selalu setia menuruti apa yang Dia kehendaki. Perpisahan ini menuntunku melewati hari yang begitu indah. Kesetiaanku kepadamu, Pagi. 

Senin, 05 Maret 2012

Sorry, I'm "Galau"


sumber image : http://www.google.co.id//
(keyword: galau)
Ku susuri perjalanan menuju rumah dan ditemani dengan rintikan hujan yang sangat syahdu. Ku pasang headset di kedua telingaku. Teringat akan diskusi beberapa menit yang lalu, bersama sahabat dan kawan senior di bawah tenda warung bakmi depan kampus. Kataku, “Ya, inilah mahasiswa. Saatnya bereksplorasi besar-besaran untuk menyambet gelar sarjana.”  Masih kaku nampaknya untuk membicarakan bagaimana menyusun sebuah skripsi, wisuda, melamar kerja, berumah tangga dan bla..bla..bla... Rasanya baru kemarin aku merasakan ospek, makrab, dapat kawan baru dan mulai beredar dengan kesibukan-kesibukan menjadi seorang mahasiswa tingkat dasar, tetapi hari ini, pikiranku melayang tentang bagaimana nasibku ke depan menghadapi ujian komprehensif atau sekedar berangan-angan mendapatkan gelar sarjana dengan predikat cumlaude.

Memandang jauh kedepan, anganku masih saja melambung. Diskusi yang bisa dibilang sangat singkat itu membuatku galau. Ini bukan lagi berhadapan dengan bagaimana caraku menghadapi dosen-dosen yang killer dan siap memaki-maki kalau saja aku ribut di dalam kelas atau menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak penting dan berbobot, tetapi aku sudah mulai dihadapkan dengan beberapa perihal masa depan. Ya, masa depan. Tidak banyak orang mungkin yang ingin bersusah payah memikirkan masa depan dengan waktu yang terlalu cepat, ada beberapa faktor pendorong pola pikir tersebut, salah satu yang paling kuat adalah “Hey, masih ada semester depan”, atau “Jalani aja hidup yang sekarang, yang esok biarkan jadi misteri esok hari. Pikirkan saja di kemudian hari.” Tidak bisa menyalahkan 'mulut' dan juga pikiran mereka, karena mereka punya hak atas itu. Tetapi berdiri menjadi seorang pemimpin di barisan depan paling kanan juga bukan hal yang mudah. Maksudnya adalah, jika seseorang bisa tau apa yang aku alami, mungkin dia akan berpikir sama denganku, tidak ada lagi waktu untuk bersenang-senang dan melepaskan sejenak tanggung jawab masa datang. Menurutku waktu berjalan sama seperti  saat kita naik taksi. Saat kita memutuskan untuk menggunakan jasa taksi, dan saat kita memutuskan untuk jalan atau hanya berjalan sangat lambat dan kemudian berhenti (stuck) tentu saja tidak membuat argometer dalam taksi itu turut serta berhenti. Argometer akan tetap berjalan sesuai dengan waktu yang terlewati. Sama seperti hidup, berjalan ataupun diam waktu akan terus berlalu dan tak akan pernah terhenti. 

Galau itu, saat melihat mahasiswa lainnya sudah bergerak maju menggarap skripsi sedangkan kita masih mempelajari bagaimana cara menterjemahkan jurnal-jurnal asing ke dalam bahasa indonesia yang baik serta dapat dipahami. Hahahha…. Tapi hal ini tentu tidak membuat aku depresi, kataku dalam hati dan untuk menghibur diriku “Tertinggal beberapa langkah tak masalah, tapi akan ku pastikan lariku akan berkali-kali lebih kencang untung mengejar ketertinggalanku.” Hey, nampaknya aku cukup bangga terhadap kemampuan yang masih tersisa dalam diriku dan juga nikmat dalam hidupku, setidaknya motivasi untuk maju itu masih selalu ada.

Singkat cerita, aku sadar satu hal. Masa depan memang tidak untuk dibicarakan di waktu yang akan datang, tapi memang sudah seharusnya masa depan dibicarakan serta dibahas di waktu sekarang, waktu dimana masih banyak mimpi yang bisa diukir dan masih banyak harapan yang masih bisa diucapkan serta masih banyak kesempatan untuk meraih apa yang menjadi sebuah cita-cita. Saat sebuah tanggung jawab menjadi sesuatu yang harus dilunasi dan masa depan harus dicapai sesuai planning serta harapan, saat itu juga strategi-strategi baru dibutuhkan untuk menguatkan pertahanan dan menapaki jalan yang semakin menanjak.  Aku rasa galau itu wajar dilakukan untuk membangkitkan semangat, introspeksi diri serta memberikan sedikit motivasi  agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Rabu, 22 Februari 2012

Cinta Menurutku dan Kehidupannya


Hidup memang terkadang tidak mempedulikan siapa, untuk apa, dan mengapa kita harus menjalaninya. Tapi hidup peduli tentang hati, perasaan dan kasih sayang. Seseorang yang masih memaknai hidupnya dalah orang yang masih setia dengan hati dan perasaannya. Saya tidak begitu pandai untuk membahas soal kehidupan, yang saya tahu hanyalah, bahwa hidup itu memanage dan mengabdi. Memanage strategi untuk bertahan hidup dan mengabdi kepada Sang Pembuat Hidup.
Bicara masalah hati dan perasaan, seringkali dikaitkan dengan cinta. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang mendeklarasikan kehidupan adalah orang-orang yang harus siap merasaka cinta, bermain-main dengan hati dan perasaannya. Cinta memang dipandang sebagai hal yang lumrah untuk dimiliki, tetapi menurut saya cinta yang sesungguhnya yaitu bagaimana cara kita memaknai hidup. Posisi cinta akan terasa saat kita bisa mengerti untuk apa kita bertahan hidup, untuk apa kita mencintai dan dicintai, cinta kepada dunia, sesama , Sang Pembuat Hidup atau bahkan seseorang yang dianggap kelak akan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Cinta sering kali dipandang sebagai sebuah kebodohan, kejahiliyahan. Karena banyak cerita cinta selalu dikambing hitamkan dalam masalah perasaan dan juga hati. Apakah cinta itu menyakiti? Apakah cinta itu sebuah alat pembodohan? Tidak akan pernah bisa memaksa untuk menghapus statement seseorang tentang cinta, yang saya tahu adalah cinta itu bagian dari kehidupan. Apapun itu, apapun keadaanya, cinta akan menempati bagian tersendiri dalam hidup masing-masing orang. Saat seseorang berpikir cinta merenggut kebahagiaannya, saat itu pula cinta akan menggantikan posisinya sebagai obat kehancuran hatinya.
“Jangan pernah membicarakan cinta bersama hati, karena keadaan  apapun tidak cukup kuat untuk menjabarkan perihal cinta yang sebenarnya.” (NSA)

Jogjakarta, 20 February 2012


Sabtu, 18 Februari 2012

E-mail ke Surga untuk Ayah #3


Hari ini tidak ada yang spesial dalam hidupku. Sama seperti saat Ayah ninggalin kami. Tapi dari sini Nia sadar satu hal. Ayah sangat berarti buatku. Hey Ayah, apakabar surga hari ini? Masih sangat indah bukan? Banyak hal yang inginku ceritakan, banyak cerita yang ingin Nia sampaikan. Seperti apa surga itu Ayah? Rasanya satu tahun sudah nia tak melihatmu, mendengar semua tawamu, atau bahkan sekedar menatap wajah sayumu. Banyak rindu yang tak berbalas, banyak ucapan yang tak bisa lagi kau dengar. Hey, aku rindu omelanmu, yang aku rasa sebagai mimpi buruk saat itu. Tapi saat itu pernahkah ku memelukmu untuk sekedar mengucap terimakasih yang teramat untuk semua hari yang telah kau beri, Ayah. 
      Liburan datang, tapi tanpamu, apa artinya? Semalam ku coba berbicara kepada Tuhan, berharap Dia mau mengabulkan semua ucapan lembutku. Satu pintaku Ayah, tetaplah tersenyum dengan keadaan kami. Tetaplah berbangga dengan segala pengorbanan kami. Satu tahun berlalu, tetapi bayangmu masih saja ada... ya.. akan selalu ada. Tapi mungkinkah Tuhan mengijinkan nia tau bagaimana keadaanmu di surga sana? Kata orang surga itu tempat terindah, tapi bagiku disini bersamamu adalah yang terindah. Kami mulai memikirkan masa depan, sama sepertimu yang selalu memikirkan masa depan kami. Nia tau Ayah tak bisa lagi ada bersama kami diruangan sempit ini, tetapi Nia percaya kasih sayang ayah tidak akan pernah berlalu. 
     
     Bagaimana dengan malaikat-Nya? Pertanyaan yang menarik, dan suatu saat kau pasti ingin menceritakan semua kepada kami, sama seperti Ayah menceritakan semua hal indah waktu lalu. Oke, Nia masih berharap semua do'a yang nia kirim bisa menjadi pelindung saat Ayah merasa "ragu" untuk melihat kemampuan kami bertahan di ini. Semoga senyuman kami mampu mendamaikanmu di surga... Love you :*

Senin, 13 Februari 2012

Tidak Untuk Menyerah

Sejenak tertegun menerawang kilasan masa lalu yang pernah saya lewati hingga beberapa tahun ini. Setelah nyawa berpaling dari raganya, ada yang berbeda dengan hidup saya detik itu juga. Rasanya hambar. Saat itu juga saya merasa berbeda dengan orang-orang lainnya. Ntah apa yang saya rasakan, yang jelas semuanya membuat hidup saya nampak samar dan banyak batu menancap di sela2 jari kedua kaki saya. Bingung menjelaskan rasa dalam sebuah asa, tapi inilah hidup, tidak bisa dipaksa untuk tetap berjalan di permukaan yang datar dan halus serta lembut. Terjatuh, merangkak, kemudian ku kukuhkan kembali sendi2 kaki yang mulai linu menapaki jalan terjal penuh dengan duri. ‘Saatnya berdiri dan membangun pertahanan’, sapaan halus  kepada hati yang terkecil.  Terbesit niat untuk menyematkan bendera putih tanda kekalahan saya terhadap hidup dan menyerah dengan semua keadaan yang Dia berikan. Tetapi pikir saya berkata lain, ini bukan saat yang tepat untuk menyerah. ‘Bukankah Tuhan-mu sangat menyayangimu? Lalu apakah tidak ingin kau bersyukur sedikit saja?‘ Sesaat langkah saya terhenti untuk kesekian kalinya dalam memahami keadaan ini, tapi semua itu membuat saya berfikir dan bersyukur, SAYA SUKA CARA TUHAN MENYAYANGI SAYA. 

Jumat, 13 Januari 2012

E-mail ke Surga untuk Ayah #2

Samar kuingat bayangan indah menghiasi tawa bersama kita. Merenda kebersamaan dengan gumpalan senyum yang selalu terpasang manis penuh sukacita. Ku rasa penuh damai saat ku ingat kembali ulasan lembut merona diwajahmu. Sebuah sinar pencerah saat malam menerkam siang dan membiarkan angin berhembus lebih dingin, dan saat itu pula kau sediakan bahu serta pelukan hangat untuk menjagaku. Hay Ayah, hampir satu tahun kau berlalu. Mustahil bagiku memintamu kembali dan tetap tinggal, tetap bertahan dengan segala macam keluh kesah, gerutu serta nada-nada manjaku kepadamu. Hujan mungkin berhenti saat musim kemarau tiba, tapi cintaku tak akan pernah menyekat kehadiranmu dalam darahku, nafasku, juga pikiranku. Cintamu terpatri erat dalam separuh otakku, mengisi sisa-sisa ruang hampa dan menjelma menjadi udara yang selalu aku hirup.

Ayah, bagaimana denganmu di sana? Ku yakin surga jauh lebih sempurna daripada dunia kumuh ini, ku yakin Tuhanku sungguh menyayangi dan mengasihimu, dan semoga uraian kalimat-kalimat rinduku selalu menghiasi memo-memo disurga-Nya. "Takdir dan skenario-Nya lah yang membuat kita dewasa, membuat kita mengerti bahwa hidup bukan hanya tersenyum, karena batu kerikil didalam hidupmu adalah salah satu properti Tuhan untuk mengujimu. Tuhan sayang, maka Ia tak kan pernah membuatmu lemah.", katamu saat itu. Hidup memang tak seindah saat kau masih bisa merasakan kebersamaan kita, tetapi hidup masih terasa indah saat aku bisa mengenangmu dalam setiap do'a yang ku hantarkan untukmu.
 
Ayah, ku berharap semua maaf yang belum terucap dapat dinilai Tuhan dan dileburkan. Ku berjanji hidupku akan jauh lebih baik dari hari yang lalu. Ku sadari belum separuh ku lewati jejak langkah yang kau tinggalkan, dan ku tau pengabdianku cukup lama untuk menyeimbangkan semua hal yang selalu kau utarakan, selalu kuharapkan, dan selalu kau inginkan dariku. Tapi percayalah, dengan restu yang selalu kau alirkan dari surga, ku pastikan cintamu kepadaku akan berbalas. Tenang dalam surga-Nya ayah, bersenandunglah bersama malaikat-malaikat suci-Nya dan tebarkan alunan-alunan lagu cintamu kepada kami yang selalu merindukanmu.
 
Yang selalu mencintaimu, 
Nia 

Hujan dan Ayah

Menengadah, dan berbisik kepada hujan. Tuhan, jadikan kesejukan ini bersemayam dalam hati dan hidupku. Sampaikan rindu yang selalu terbatas untuk selalu ku utarakan. Rindu yang selalu menjadikan airmata tak mampu terhenti. Rinduku kepadamu, Ayah. :)  -Nia-

Selasa, 10 Januari 2012

E-mail ke Surga untuk Ayah

................................................................................................................................................................... 
Tidak ada lagi sandaran yang selalu menghangatkan tubuhku, tidak ada lagi peneduh saat badai mencoba merobohkanku. Ayah, apa bisa Nia menggantikan tauladan sepertimu? Rasanya mustahil saat aku beroptimis untuk bisa membanggakanmu, rasanya salah aku mendambakan menjadi sosok sepertimu dan rasanya sanksi saat aku berharap aku bisa menggantikan kebijaksanaanmu. Sungguh kau yang terhebat Yah, walaupun tak pernah ku ucap kata itu saat kau masih bisa merasakan denyut jantungku berdetak dalam gendonganmu. 
Ingin rasanya kupeluk erat tubuhmu dan bilang kepada-Nya "Tuhan, please ijinkan sekali lagi kupeluknya untuk yang terakhir, menyekat pembuluh air mata yang siap untuk mengalir, memompa semangatku yang semakin hari semakin surut. Tuhan, ku mohon jangan Kau ambil kali ini, ijinkan aku memeluknya, berbisik kata-kata terindahku yang belum pernah kuucapkan dengan lisanku. Sungguh aku menyayanginya lebih dari aku menyayangi ragaku. Tak bisakah kau ubah keputusan-Mu?"
Rasanya kelu saat ku bayangkan jika kesempatan itu menghampiriku, serasa tak percaya dan memang inilah fakta. Kau telah tiada. Seakan mati jaringan yang ada di dalam hati, mellihatmu pergi berpaling dan tak ingin aku mengikuti langkahmu saat itu. Kau bangun dinding pemisah yang lembut, Tuhan. Samar kurasa jarak yang Kau buat, tetapi cinta dan kasihnya masih kurasa sama hingga detik terakhirnya. 
Ayah, dapatkah kau membalas semua senyumanku yang terlontar setiap waktu untukmu? Aku memandangmu dalam kenanganku, aku merindumu dalam lamunanku dan aku sangat menyayangimu dalam hembusan nafasku. Sungguh indah jalan yang kau ciptakan untukku mendaki, sungguh suci cinta yang kau beri tanpa henti, hingga akhirnya aku sadar, kau pergi dengan membawa cinta dari kami. Banggaku kepadamu bukan hanya dimulai saat ini, tetapi ingatlah Yah, rasa memilikiku tak akan pernah mati, walau kau tak ada lagi untuk berbagi. 
I Miss you, Daddy...

Jumat, 06 Januari 2012

Dan Aku Menyebutnya : Bintang

Sahabat memang tidak hanya dinilai dengan sebatas ucapan yang keluar dari bibir kita, bukan hanya sebuah ungkapan dari hati kita, dan bukan hanya tulisan yang kita tinggalkan dalam jejak-jejak hidup kita. Bukan sekedar itu. Sahabat adalah tangan kita, sahabat adalah mata kita, sahabat adalah hati kita. Itu cara saya mendefinisikan arti sahabat. Karena menurut saya, sahabat tidak dapat saya artikan dan saya pahami dengan sebuah tulisan atau perasaan saja. Sahabat bagi saya adalah bagian dari organ pembentuk tubuh saya, perangkai kalimat istimewa dalam hidup saya, pelangi yang mewarnai jalan saya, dan seperti bintang yang menjadi penghias malam hari saya. 
Ini cerita saya tentang sahabat,
Saya setuju dengan statement yang menyatakan bahwa "sahabat adalah hal yang bahkan kita tak pernah tahu apa dan kenapa kita bisa menyebutnya sahabat, bukan berupa materi, tetapi lebih kepada rasa memiliki." Sahabat bagi saya adalah orang yang sangat penting setelah Ibu, Ayah, keluarga. Karena menurut saya sahabat adalah bagian dari hidup saya.
Pertemuan singkat dan tanpa disengaja, tanpa kami tahu siapa, apa, darimana dan bagaimana hubungan kami setelah perkenalan itu. Tanpa banyak kata babibubebo, banyak hal yang kami lalui bersama. Banyak hal yang kami topang bersama, kami bahas bersama dan bahkan kami lengkapi bersama. Saling melengkapi, saling berbagi hingga tanpa disadari bahwa banyak sekali bermunculan kesamaan-kesamaan yang ada di dalam diri kami masing-masing. 
"Aku menyebutnya Bintang" karena saya tahu bahwa tempatnya di hati saya seperti bintang, walaupun mendung dan hujan menyelimuti malam-malam kami, tetapi kami selalu yakin bintang akan tetap berada pada tempatnya, hanya saja sinarnya tidak dapat menembus tebalnya awan hitam dan hujan yang jatuh. Sama sepertinya yang selalu saya sebut sahabat. Dimanapun dia berada, dan bagaimanapun keadaanya, dia akan tetap layak disebut sahabat. Sekalipun banyak hal yang menghalanginya untuk menemani langkah saya setiap saat. 

Didedikasikan untuk sahabat saya .. :) Love you,

Kamis, 05 Januari 2012

# ILoveMyFather ♥


    Kata Alm. Bapak saat itu : "saat semua jalan tak mampu mempertemukanmu dalam sebuah penyelesaian, dan membuatmu terangkat dari semua masalahmu, Allah tau apa yang harus kamu perbuat. Bersujudlah, menangislah dan memohonlah. Sungguh, kita ini serendah-rendahnya hal dihadapan-Nya. Jangan ragu untuk menyebut Asma-Nya. Dan Allah tidak akan pernah meninggalkanmu."

    Ayah saya memang masih meninggalkan jejak warna-warni seperti pelangi di dalam hidup saya. Masih saja menuntun langkah-langkah saya, dan masih saja menemani kesendirian saya di malam yang pekat.  Ayah adalah sosok istimewa setelah ibu saya. Sosok yang sangat hebat dan mempesona, bijaksana dan penuh kasih.

    Hampir saya terlambat menyadari semua yang telah beliau beri. Sekarang, saya rasa, penyesalan bukanlah jawaban yang akan saya lontarkan. Mengingat semua kesalahan bukanlah hal yang tepat untuk mengungkapkan segalanya.

    Ayah, akan ada saatnya nanti, dimana Ayah bisa berbangga didepan-Nya dengan segala apa yang saya punya dan lakukan. I Love You, ♥

"The Power Of Love" by Air Supply


Air Supply - The Power of Love


The whispers in the morning
Of lovers sleeping tight
Are rolling by like thunder now
As I look in your eyes
I hold on to your body
And feel each move you make
Your voice is warm and tender
A love that I could not forsake
Cause you are my lady
And I am your man
Whenever you reach for me
I'll do all that I can
Lost is how I'm feeling
Lying in your arms
When the world outside's too much to take

That all ends when I'm with you

Even though there may be times
It seems I'm far away
Never wonder where I am
'cause I am always by your side

Cause you are my lady
And I am your man
Whenever you reach for me
I'll do all that I can

We're heading for something
Somewhere I've never been
Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn
'Bout the power of love

The sound of your heart beating
made it clear suddenly
the feeling that I can't go on
is light years away

Cause you are my lady
And I am your man
Whenever you reach for me
I'll do all that I can

We're heading for something
Somewhere I've never been
Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn
'Bout the power of love


Selasa, 03 Januari 2012

Sebuah motivasi Yang Terpendam

       Sore itu hujan masih memaksa kami untuk tetap duduk di bangunan tua kampus. Terjebak dalam kesunyian karena berada di lantai paling atas bangunan itu. Hembusan angin mulai membuka perbincangan kami. Kami mulai bercerita tentang hidup, sebuah masa depan, cita cinta, harapan dan sebuah keinginan yang sangat kami idamkan.  Sore itu masih sempat saya lihat warna langit yang masih tampak cerah karena baru disambangi hujan, dengan sedikit gumpalan awan lembut yang masih menghiasi. "Sore yang damai", gumam saya. 
_____________________________________________________________________________________

          Sebut saja dia Anji, mahasiswa senior di jurusan kami tempat kami menimba ilmu. Sekilas dari luar, bisa dibilang dia merupakan salah satu lulusan terbaik, cerdas, intelektual dan juga merupakan sosok yang saya kagumi. Well, overall dia merupakan lelaki yang brilliant. Tetapi banyak hal yang ternyata menjadi sebuah misteri dalam hidupnya yang sempat membuatnya stuck dalam keadaan yang sangat ia anggap salah. 

        Dia mulai bercerita tentang hidupnya 4 tahun yang lalu, ya tepat  di Tahun 2007. Saat itu Anji merupakan siswa kelas 2 salah satu SMA Negeri favorit di Jogjakarta. Sejak duduk di bangku pendidikan yang pernah dia tempuh, dia memang terkenal sebagai laki-laki yang supel, pendiam, namun sangat cerdas dan pintar, tetapi dia mengaku kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dia mulai bercerita tentang sebuah peristiwa yang sempat menjadi momok dalam hidupnya. Peristiwa dimana dia harus menjadi laki-laki yang selalu merasa terpuruk dan peristiwa yang selalu ia sebut dengan mimpi buruk. Keadaan yang sangat menganggu hati dan pikirannya itu terjadi saat dia hendak pulang sekolah. Anji tidak pernah menyangka bahwa siang itu akan menjadi hari terburuk dalam sejarah hidupnya saat itu. Saat ia sedang fokus dengan perjalanannya dan berharap lekas sampai rumah, tiba-tiba muncul segerombolan orang  bermotor (gankster) yang tidak ia kenal mendekatinya dan memukul kepalanya dari belakang. Anji tidak bisa menangkis atau bahkan menghindar dari pukulan tersebut, dan takdir membawanya dalam suatu keadaan yang sangat kritis. Kepalanya terbentur trotoar dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit dengan penuh luka serta kucuran darah pada pelipis mata dan kepala sebelah kanannya. Anji kritis dan terpaksa mendapatkan perawatan secara serius selama beberapa bulan hingga dokter memvonisnya bahwa musibah tersebut membuatnya harus kehilangan penglihatan pada mata kanannya. 

         Takdir memang bisa dirubah selama manusia masih mau berusaha sekuat tenaga, tetapi apakah mungkin mengembalikan syaraf-syaraf matanya untuk kembali melihat? Bahkan dokter yang merawatnyapun merasa tidak mampu mengembalikan penglihatannya seperti sediakala. Semenjak itu hatinya terguncang, apakah mampu dia bertahan melalui hari-harinya dengan menggunakan satu matanya. Sekejap, hilanglah satu keceriaannya, hidupnya dipenuhi dengan kemurungan dan menjadikannya pribadi yang tertutup, penuh dengan beberapa misteri yang dipendamnya. Marah, takut, minder itu yang dia rasakan saat itu, tetapi satu hal yang membuatnya tetap mencoba berdiri saat itu, dia hanya percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkannya sendiri. 

         Anji mulai bangkit dalam keterpurukannya, dan hari kelulusanpun tiba. Hey, dia masih tetap menjadi Anji yang pintar, cerdas, dan berbudi. Dia lulus dengan hasil yang memuaskan, dan usahanya untuk mencapai hasil terbaik tersebut membawanya untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, bahkan Universitas Negeri di Yogyakarta pun siap menerimanya menjadi salah satu mahasiswa terbaiknya. Hal tersebut tidak cukup membuatnya bahagia saat itu, kembali teringat masa-masa terburuk yang pernah ia alami. Melanjutkan studi di bidang kedokteran menjadi cita-citanya sejak dulu, tetapi keterbatasannya membuatnya mundur dan memutuskan untuk memilih program studi lainnya. Arsitektur, program studi kedua yang dia pilih. Lagi-lagi keterbatasan fisiknya membuat nyalinya menciut, sedangkan petinggi universitas tidak mempermasalahkan keterbatasannya dengan beberapa pertimbangan. Sejenak dia berfikir, apakah keterbatasan fisiknya membuatnya berhenti untuk berjuang? Berhenti untuk menjadi pribadi hebat dan luar biasa? Dia adalah pecundang jika dia terus merasa terpuruk dalam keadaan yang saat itu ia alami, pikirnya. Dengan penuh keyakinan dan tekat, dia memutuskan untuk melanjutkan cita-citanya, tetapi kali ini Ekonomi Manajemen-lah yang menjadi pilihan untuk melanjutkan studinya. Akhirnya Anji resmi menjadi mahasiswa program studi manajemen di salah satu universitas swasta terkemuka di Kota Yogyakarta.

*Bersambung...... 

Senin, 02 Januari 2012

Abdul & The Coffe Theory - Yang Penting Happy












"Yeaaaaaaaaaa... HAPPY NEW YEAR !!! Okay, hari kedua di Tahun 2012. Ini lagu untuk pembuka Tahun yang sangat indah ini, semoga tetap indah sampai berakhirnya tahun.. amiin :D "  







tiga hari tlah berlalu ku masih di tempat tidur ini
setiap menit ku lalui ditemani remote control TV
ku hanya ingin ceriakan hati
setelah kamu tinggalkan ku pergi
semua ku lakukan dengan caraku
nikmati hari-hari tanpa bayang dirimu
semua ku lakukan dengan caraku
tak peduli bila aku sendiri yang penting happy
yang penting happy
mencoba habiskan waktu nikmati koleksi DVD
mencoba menertawakan ending di romantic comedy
ku hanya ingin ceriakan hati
setelah kamu tinggalkan ku pergi
semua ku lakukan dengan caraku
nikmati hari-hari tanpa bayang dirimu
semua ku lakukan dengan caraku
tak peduli bila aku sendiri yang penting happy
yang penting happy
di suatu hari nanti kan ada penggantimu
tapi tuk saat ini ku hanya ingin nikmati hidup
semua ku lakukan dengan caraku
nikmati hari-hari tanpa bayang dirimu

semua ku lakukan dengan caraku
tak peduli bila aku sendiri, tak peduli bila aku sendiri
yang penting happy, yang penting happy, yang penting happy
suka sama lagunya ? bisa di download di sini