Hidup memang terkadang tidak mempedulikan siapa, untuk apa, dan mengapa kita harus menjalaninya. Tapi hidup peduli tentang hati, perasaan dan kasih sayang. Seseorang yang masih memaknai hidupnya dalah orang yang masih setia dengan hati dan perasaannya. Saya tidak begitu pandai untuk membahas soal kehidupan, yang saya tahu hanyalah, bahwa hidup itu memanage dan mengabdi. Memanage strategi untuk bertahan hidup dan mengabdi kepada Sang Pembuat Hidup.
Bicara masalah hati dan perasaan, seringkali dikaitkan dengan cinta. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang mendeklarasikan kehidupan adalah orang-orang yang harus siap merasaka cinta, bermain-main dengan hati dan perasaannya. Cinta memang dipandang sebagai hal yang lumrah untuk dimiliki, tetapi menurut saya cinta yang sesungguhnya yaitu bagaimana cara kita memaknai hidup. Posisi cinta akan terasa saat kita bisa mengerti untuk apa kita bertahan hidup, untuk apa kita mencintai dan dicintai, cinta kepada dunia, sesama , Sang Pembuat Hidup atau bahkan seseorang yang dianggap kelak akan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Cinta sering kali dipandang sebagai sebuah kebodohan, kejahiliyahan. Karena banyak cerita cinta selalu dikambing hitamkan dalam masalah perasaan dan juga hati. Apakah cinta itu menyakiti? Apakah cinta itu sebuah alat pembodohan? Tidak akan pernah bisa memaksa untuk menghapus statement seseorang tentang cinta, yang saya tahu adalah cinta itu bagian dari kehidupan. Apapun itu, apapun keadaanya, cinta akan menempati bagian tersendiri dalam hidup masing-masing orang. Saat seseorang berpikir cinta merenggut kebahagiaannya, saat itu pula cinta akan menggantikan posisinya sebagai obat kehancuran hatinya.
“Jangan pernah membicarakan cinta bersama hati, karena keadaan apapun tidak cukup kuat untuk menjabarkan perihal cinta yang sebenarnya.” (NSA)
Jogjakarta, 20 February 2012
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus