Selasa, 20 Desember 2011

Berbicara Kepada Tuhan

“Dokter, penyakit ini masih bisa sembuhkan?” tanyaku dengan lirih. Dengan senyum, dan seraya menjawab pertanyaanku, “Pasti bisa.” Perlahan ku berjalan keluar meninggalkan ruangan itu, ku susuri lorong Rumah Sakit yang kurasa asing dan dipenuhi bau obat dimana-mana. Ku lewati bangsal-bangsal yang penuh dengan belasan pasien yang penuh manja beristirahat lemas di tempat tidur yang “menjijikkan” itu, dan kesekian kalinya hati kecilku bergumam “ Aku benci Rumah Sakit, Ya ! Sangat benci.”
Tanpa kusadari, kaki ku berhenti di ruangan yang penuh dengan sesak dan bau obat-obatan yang sangat menganggu panca inderaku. Aku mulai memperhatikan ruangan itu, ku perhatikan dari luar, “Instalasi Gawat Darurat.” Aku masih saja berdiri di depan ruangan itu, menatap sayu apa yang sedang mereka kerjakan didalam ruangan itu. Ku lihat sejenak wajah perempuan paruh baya, ya mungkin seusia ibuku, penuh harap dan setia menunggu lelaki itu. Dan masih kulihat disekelilingnya, Nampak beberapa keluarga dan juga kerabatnya. Tuhan, beruntungnya lelaki itu, masih sebegitu setianya dia diperhatikan oleh kerabatnya. Teringat beberapa bulan saat Ayah pergi meninggalkan kami, beliau berpulang tanpa kami disisinya. Tetesan air mata pun tak terbendung, namun di sini aku selalu yakin, aku tak perlu menyesal atas kepergian ayah, karena aku yakin, bekalnya cukup untuk perjalanan menuju tempat terindah Tuhan.
Aku masih saja berdiri di depan ruangan itu, tanpa kusadari, suasana di dalam sana sudah berubah menjadi suasana haru dan memekik. Suara tangis itu membuyarkan semua lamunanku sore itu. Suara tangis wanita dan kerabatnya memenuhi suasana IGD yang begitu sesak. Ya, lelaki itu sudah tiada. Entah apa yang terjadi selama beberapa menit yang singkat itu, yang kutahu, wanita itu terus menangisi tubuh suaminya yang mulai kaku dan tertutup kain. Lidah ku kelu, mataku tak sanggup untuk berkedip. Tuhan, hidup dan mati adalah takdirMu, akan tiba saatnya ku alami semua itu.
"Tuhanku, jemput aku ketika dirasa memang pantas dan tiba waktunya, saat segala urusan duniaku terselesaikan, disaat iman dan ketaqwaanku telah cukup untuk menjadi kunci menuju tempat yang Engkau janjikan dan ijinkan aku melafalkan kalimat tauhid dan juga syahadat dengan sempurna.Dan saat tiba saatnya nanti, aku tak akan pernah mau satu orangpun menangisi kepergianku"

(Jogjakarta, 16 Agustus 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar