Rabu, 22 Februari 2012

Cinta Menurutku dan Kehidupannya


Hidup memang terkadang tidak mempedulikan siapa, untuk apa, dan mengapa kita harus menjalaninya. Tapi hidup peduli tentang hati, perasaan dan kasih sayang. Seseorang yang masih memaknai hidupnya dalah orang yang masih setia dengan hati dan perasaannya. Saya tidak begitu pandai untuk membahas soal kehidupan, yang saya tahu hanyalah, bahwa hidup itu memanage dan mengabdi. Memanage strategi untuk bertahan hidup dan mengabdi kepada Sang Pembuat Hidup.
Bicara masalah hati dan perasaan, seringkali dikaitkan dengan cinta. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang mendeklarasikan kehidupan adalah orang-orang yang harus siap merasaka cinta, bermain-main dengan hati dan perasaannya. Cinta memang dipandang sebagai hal yang lumrah untuk dimiliki, tetapi menurut saya cinta yang sesungguhnya yaitu bagaimana cara kita memaknai hidup. Posisi cinta akan terasa saat kita bisa mengerti untuk apa kita bertahan hidup, untuk apa kita mencintai dan dicintai, cinta kepada dunia, sesama , Sang Pembuat Hidup atau bahkan seseorang yang dianggap kelak akan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Cinta sering kali dipandang sebagai sebuah kebodohan, kejahiliyahan. Karena banyak cerita cinta selalu dikambing hitamkan dalam masalah perasaan dan juga hati. Apakah cinta itu menyakiti? Apakah cinta itu sebuah alat pembodohan? Tidak akan pernah bisa memaksa untuk menghapus statement seseorang tentang cinta, yang saya tahu adalah cinta itu bagian dari kehidupan. Apapun itu, apapun keadaanya, cinta akan menempati bagian tersendiri dalam hidup masing-masing orang. Saat seseorang berpikir cinta merenggut kebahagiaannya, saat itu pula cinta akan menggantikan posisinya sebagai obat kehancuran hatinya.
“Jangan pernah membicarakan cinta bersama hati, karena keadaan  apapun tidak cukup kuat untuk menjabarkan perihal cinta yang sebenarnya.” (NSA)

Jogjakarta, 20 February 2012


Sabtu, 18 Februari 2012

E-mail ke Surga untuk Ayah #3


Hari ini tidak ada yang spesial dalam hidupku. Sama seperti saat Ayah ninggalin kami. Tapi dari sini Nia sadar satu hal. Ayah sangat berarti buatku. Hey Ayah, apakabar surga hari ini? Masih sangat indah bukan? Banyak hal yang inginku ceritakan, banyak cerita yang ingin Nia sampaikan. Seperti apa surga itu Ayah? Rasanya satu tahun sudah nia tak melihatmu, mendengar semua tawamu, atau bahkan sekedar menatap wajah sayumu. Banyak rindu yang tak berbalas, banyak ucapan yang tak bisa lagi kau dengar. Hey, aku rindu omelanmu, yang aku rasa sebagai mimpi buruk saat itu. Tapi saat itu pernahkah ku memelukmu untuk sekedar mengucap terimakasih yang teramat untuk semua hari yang telah kau beri, Ayah. 
      Liburan datang, tapi tanpamu, apa artinya? Semalam ku coba berbicara kepada Tuhan, berharap Dia mau mengabulkan semua ucapan lembutku. Satu pintaku Ayah, tetaplah tersenyum dengan keadaan kami. Tetaplah berbangga dengan segala pengorbanan kami. Satu tahun berlalu, tetapi bayangmu masih saja ada... ya.. akan selalu ada. Tapi mungkinkah Tuhan mengijinkan nia tau bagaimana keadaanmu di surga sana? Kata orang surga itu tempat terindah, tapi bagiku disini bersamamu adalah yang terindah. Kami mulai memikirkan masa depan, sama sepertimu yang selalu memikirkan masa depan kami. Nia tau Ayah tak bisa lagi ada bersama kami diruangan sempit ini, tetapi Nia percaya kasih sayang ayah tidak akan pernah berlalu. 
     
     Bagaimana dengan malaikat-Nya? Pertanyaan yang menarik, dan suatu saat kau pasti ingin menceritakan semua kepada kami, sama seperti Ayah menceritakan semua hal indah waktu lalu. Oke, Nia masih berharap semua do'a yang nia kirim bisa menjadi pelindung saat Ayah merasa "ragu" untuk melihat kemampuan kami bertahan di ini. Semoga senyuman kami mampu mendamaikanmu di surga... Love you :*

Senin, 13 Februari 2012

Tidak Untuk Menyerah

Sejenak tertegun menerawang kilasan masa lalu yang pernah saya lewati hingga beberapa tahun ini. Setelah nyawa berpaling dari raganya, ada yang berbeda dengan hidup saya detik itu juga. Rasanya hambar. Saat itu juga saya merasa berbeda dengan orang-orang lainnya. Ntah apa yang saya rasakan, yang jelas semuanya membuat hidup saya nampak samar dan banyak batu menancap di sela2 jari kedua kaki saya. Bingung menjelaskan rasa dalam sebuah asa, tapi inilah hidup, tidak bisa dipaksa untuk tetap berjalan di permukaan yang datar dan halus serta lembut. Terjatuh, merangkak, kemudian ku kukuhkan kembali sendi2 kaki yang mulai linu menapaki jalan terjal penuh dengan duri. ‘Saatnya berdiri dan membangun pertahanan’, sapaan halus  kepada hati yang terkecil.  Terbesit niat untuk menyematkan bendera putih tanda kekalahan saya terhadap hidup dan menyerah dengan semua keadaan yang Dia berikan. Tetapi pikir saya berkata lain, ini bukan saat yang tepat untuk menyerah. ‘Bukankah Tuhan-mu sangat menyayangimu? Lalu apakah tidak ingin kau bersyukur sedikit saja?‘ Sesaat langkah saya terhenti untuk kesekian kalinya dalam memahami keadaan ini, tapi semua itu membuat saya berfikir dan bersyukur, SAYA SUKA CARA TUHAN MENYAYANGI SAYA.