Senin, 05 Maret 2012

Sorry, I'm "Galau"


sumber image : http://www.google.co.id//
(keyword: galau)
Ku susuri perjalanan menuju rumah dan ditemani dengan rintikan hujan yang sangat syahdu. Ku pasang headset di kedua telingaku. Teringat akan diskusi beberapa menit yang lalu, bersama sahabat dan kawan senior di bawah tenda warung bakmi depan kampus. Kataku, “Ya, inilah mahasiswa. Saatnya bereksplorasi besar-besaran untuk menyambet gelar sarjana.”  Masih kaku nampaknya untuk membicarakan bagaimana menyusun sebuah skripsi, wisuda, melamar kerja, berumah tangga dan bla..bla..bla... Rasanya baru kemarin aku merasakan ospek, makrab, dapat kawan baru dan mulai beredar dengan kesibukan-kesibukan menjadi seorang mahasiswa tingkat dasar, tetapi hari ini, pikiranku melayang tentang bagaimana nasibku ke depan menghadapi ujian komprehensif atau sekedar berangan-angan mendapatkan gelar sarjana dengan predikat cumlaude.

Memandang jauh kedepan, anganku masih saja melambung. Diskusi yang bisa dibilang sangat singkat itu membuatku galau. Ini bukan lagi berhadapan dengan bagaimana caraku menghadapi dosen-dosen yang killer dan siap memaki-maki kalau saja aku ribut di dalam kelas atau menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak penting dan berbobot, tetapi aku sudah mulai dihadapkan dengan beberapa perihal masa depan. Ya, masa depan. Tidak banyak orang mungkin yang ingin bersusah payah memikirkan masa depan dengan waktu yang terlalu cepat, ada beberapa faktor pendorong pola pikir tersebut, salah satu yang paling kuat adalah “Hey, masih ada semester depan”, atau “Jalani aja hidup yang sekarang, yang esok biarkan jadi misteri esok hari. Pikirkan saja di kemudian hari.” Tidak bisa menyalahkan 'mulut' dan juga pikiran mereka, karena mereka punya hak atas itu. Tetapi berdiri menjadi seorang pemimpin di barisan depan paling kanan juga bukan hal yang mudah. Maksudnya adalah, jika seseorang bisa tau apa yang aku alami, mungkin dia akan berpikir sama denganku, tidak ada lagi waktu untuk bersenang-senang dan melepaskan sejenak tanggung jawab masa datang. Menurutku waktu berjalan sama seperti  saat kita naik taksi. Saat kita memutuskan untuk menggunakan jasa taksi, dan saat kita memutuskan untuk jalan atau hanya berjalan sangat lambat dan kemudian berhenti (stuck) tentu saja tidak membuat argometer dalam taksi itu turut serta berhenti. Argometer akan tetap berjalan sesuai dengan waktu yang terlewati. Sama seperti hidup, berjalan ataupun diam waktu akan terus berlalu dan tak akan pernah terhenti. 

Galau itu, saat melihat mahasiswa lainnya sudah bergerak maju menggarap skripsi sedangkan kita masih mempelajari bagaimana cara menterjemahkan jurnal-jurnal asing ke dalam bahasa indonesia yang baik serta dapat dipahami. Hahahha…. Tapi hal ini tentu tidak membuat aku depresi, kataku dalam hati dan untuk menghibur diriku “Tertinggal beberapa langkah tak masalah, tapi akan ku pastikan lariku akan berkali-kali lebih kencang untung mengejar ketertinggalanku.” Hey, nampaknya aku cukup bangga terhadap kemampuan yang masih tersisa dalam diriku dan juga nikmat dalam hidupku, setidaknya motivasi untuk maju itu masih selalu ada.

Singkat cerita, aku sadar satu hal. Masa depan memang tidak untuk dibicarakan di waktu yang akan datang, tapi memang sudah seharusnya masa depan dibicarakan serta dibahas di waktu sekarang, waktu dimana masih banyak mimpi yang bisa diukir dan masih banyak harapan yang masih bisa diucapkan serta masih banyak kesempatan untuk meraih apa yang menjadi sebuah cita-cita. Saat sebuah tanggung jawab menjadi sesuatu yang harus dilunasi dan masa depan harus dicapai sesuai planning serta harapan, saat itu juga strategi-strategi baru dibutuhkan untuk menguatkan pertahanan dan menapaki jalan yang semakin menanjak.  Aku rasa galau itu wajar dilakukan untuk membangkitkan semangat, introspeksi diri serta memberikan sedikit motivasi  agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Rabu, 22 Februari 2012

Cinta Menurutku dan Kehidupannya


Hidup memang terkadang tidak mempedulikan siapa, untuk apa, dan mengapa kita harus menjalaninya. Tapi hidup peduli tentang hati, perasaan dan kasih sayang. Seseorang yang masih memaknai hidupnya dalah orang yang masih setia dengan hati dan perasaannya. Saya tidak begitu pandai untuk membahas soal kehidupan, yang saya tahu hanyalah, bahwa hidup itu memanage dan mengabdi. Memanage strategi untuk bertahan hidup dan mengabdi kepada Sang Pembuat Hidup.
Bicara masalah hati dan perasaan, seringkali dikaitkan dengan cinta. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa orang yang mendeklarasikan kehidupan adalah orang-orang yang harus siap merasaka cinta, bermain-main dengan hati dan perasaannya. Cinta memang dipandang sebagai hal yang lumrah untuk dimiliki, tetapi menurut saya cinta yang sesungguhnya yaitu bagaimana cara kita memaknai hidup. Posisi cinta akan terasa saat kita bisa mengerti untuk apa kita bertahan hidup, untuk apa kita mencintai dan dicintai, cinta kepada dunia, sesama , Sang Pembuat Hidup atau bahkan seseorang yang dianggap kelak akan menjadi bagian dari kehidupan kita.
Cinta sering kali dipandang sebagai sebuah kebodohan, kejahiliyahan. Karena banyak cerita cinta selalu dikambing hitamkan dalam masalah perasaan dan juga hati. Apakah cinta itu menyakiti? Apakah cinta itu sebuah alat pembodohan? Tidak akan pernah bisa memaksa untuk menghapus statement seseorang tentang cinta, yang saya tahu adalah cinta itu bagian dari kehidupan. Apapun itu, apapun keadaanya, cinta akan menempati bagian tersendiri dalam hidup masing-masing orang. Saat seseorang berpikir cinta merenggut kebahagiaannya, saat itu pula cinta akan menggantikan posisinya sebagai obat kehancuran hatinya.
“Jangan pernah membicarakan cinta bersama hati, karena keadaan  apapun tidak cukup kuat untuk menjabarkan perihal cinta yang sebenarnya.” (NSA)

Jogjakarta, 20 February 2012


Sabtu, 18 Februari 2012

E-mail ke Surga untuk Ayah #3


Hari ini tidak ada yang spesial dalam hidupku. Sama seperti saat Ayah ninggalin kami. Tapi dari sini Nia sadar satu hal. Ayah sangat berarti buatku. Hey Ayah, apakabar surga hari ini? Masih sangat indah bukan? Banyak hal yang inginku ceritakan, banyak cerita yang ingin Nia sampaikan. Seperti apa surga itu Ayah? Rasanya satu tahun sudah nia tak melihatmu, mendengar semua tawamu, atau bahkan sekedar menatap wajah sayumu. Banyak rindu yang tak berbalas, banyak ucapan yang tak bisa lagi kau dengar. Hey, aku rindu omelanmu, yang aku rasa sebagai mimpi buruk saat itu. Tapi saat itu pernahkah ku memelukmu untuk sekedar mengucap terimakasih yang teramat untuk semua hari yang telah kau beri, Ayah. 
      Liburan datang, tapi tanpamu, apa artinya? Semalam ku coba berbicara kepada Tuhan, berharap Dia mau mengabulkan semua ucapan lembutku. Satu pintaku Ayah, tetaplah tersenyum dengan keadaan kami. Tetaplah berbangga dengan segala pengorbanan kami. Satu tahun berlalu, tetapi bayangmu masih saja ada... ya.. akan selalu ada. Tapi mungkinkah Tuhan mengijinkan nia tau bagaimana keadaanmu di surga sana? Kata orang surga itu tempat terindah, tapi bagiku disini bersamamu adalah yang terindah. Kami mulai memikirkan masa depan, sama sepertimu yang selalu memikirkan masa depan kami. Nia tau Ayah tak bisa lagi ada bersama kami diruangan sempit ini, tetapi Nia percaya kasih sayang ayah tidak akan pernah berlalu. 
     
     Bagaimana dengan malaikat-Nya? Pertanyaan yang menarik, dan suatu saat kau pasti ingin menceritakan semua kepada kami, sama seperti Ayah menceritakan semua hal indah waktu lalu. Oke, Nia masih berharap semua do'a yang nia kirim bisa menjadi pelindung saat Ayah merasa "ragu" untuk melihat kemampuan kami bertahan di ini. Semoga senyuman kami mampu mendamaikanmu di surga... Love you :*