Minggu, 24 Juni 2012

Rindu itu Istimewa

Yang tersisa selain berdo'a adalah merindunya. Pagi ini bukan galau yang aku rasa, bukan rasa sesak yang menghambat pernafasanku karna asma, bukan juga rasa resah menanti kekasih yang tak ada kabar. Pagi ini aku hanya merindu, dan selalu merindu. Mencoba mengingat pelukan hangatnya untukku saat aku takut, memelukku saat aku masuk dalam daftar juara kelas di sekolah, atau memelukku karna ingin pergi jauh. Tak lagi kurasakan semuanya, memeluknya saat ini adalah mustahil. Ah sudah, untuk apa aku ungkap semuanya? Aku tak ingin membuatnya cemas. 

retrieved image from : http://eshaa09.student.ipb.ac.id/files/2012/02/ayahQ.jpg
Hanya saja, aku masih ingin merindu masa laluku, masa dimana selalu ada tangan-tangan lembutnya penuh cinta menggandengku semasa anak-anak, memelukku semasa remasa dan merangkulku saat dewasa. Kini, yang aku ingat adalah sosok ayah yang selalu menggambarkan kehidupan dengan sebuah lukisan indah hingga aku bisa berkata "aku siap menatap masa depan", meyakinkan aku bahwa hidup itu tidak selamanya keras. Katanya "tentukan hidupmu sendiri dengan pena yang Tuhan beri, biarlah Tuhan yang menghiasnya dengan warna-warna yang Ia punya."  Hal itu yang selalu membuatku rindu padamu, ayah. Merindumu begitu istimewa. 


 Di balik selimut, June 24, 2012 
Copyright©2012. Nia Setia Astuti.           

Kamis, 21 Juni 2012

Untukmu, Nafasku yang Hilang


Pergi dan tersenyumlah, 
Seperti senyum Tuhan yang setia mengiringi sang fajar,
Pergi dan berbanggalah,
Seperti banggaku kepada jejak-jejak hidup indahmu.


Pergi dan bersuka citalah,
Karena kini tiada lagi beban yang akan merisaukanmu,
Pergilah bersama angin senja yang hangat,
Pergilah untuk sebuah keabadian suci nan berarti,


Pergi, pergi dan tetap tersenyumlah,
Karena Dia akan selalu memluk hangat jiwa rentamu.


Untukmu, nafasku yang hilang
Berlalulah dengan segala bahagia dan suka cita,
Rengkuh segala cinta-Nya,
Tabur berjuta senyum indah dari singgasana surga.

Original Post and Creator : Nia Setia Astuti
(Jogja, 21 Juni 2012)

Jumat, 15 Juni 2012

Melodi di Bulan Juni

Seperti biasa, fajar selalu menyapa dengan hangat dan lembut, dan tak heran jika senja melambaikan kalimat-kalimat mesra menutup perjumpaanku hari ini. Begitulah mereka, saling melengkapi dan saling memberikan rona indah di setiap hari-hariku. Samar kali ini ku tatap wajahmu, terlihat letih namun masih bisa kulihat kau datang bukan untuk mengeluh, bukan untuk mengumbar kalimat sampah atau sekedar meluapkan segala kegelisahan yang kau rasakan. Kau hanya ingin datang membagi cinta, cerita, dan kau membagi sedikit sayang itu kepada ku, kepada kami. Pernah ku bertanya dalam hati, pernah kau lelah dengan semua ini? tentu kau hanya bisa tersenyum dan menjawabnya lirih "Aku selalu merindumu dan aku hanya ingin membuatmu tersenyum." Kalimat itu yang selalu ku ulang. Tanyamu, "Kau bosan?" dan mungkin akan ku balas dengan sebuah gelengan kepala ringan tanda aku tak ingin kau menanyakan itu. Aku tahu, cintamu mungkin bisa dikatakan suci atau entah apalah orang bilang, tapi untukku kehadiranmu yang selalu tepat waktu cukup membuatku berfikir dua kali untuk memalingkan badan dan hidupku darimu.

Sempurnanya engkau. Ku kagumi dengan rentetan kalimat-kalimat keagungan yang tercurah hanya untukmu. Kali ini kau sungguh mempesona, membuatku tak henti-hentinya terperangkap dalam zona keindahanmu. "Mengapa kau diam kali ini?" ku dengar suara lirihmu itu, namun aku enggan menjawab segala pertanyaan yang kau luncurkan dan tahukah kamu, aku hanya ingin menikmati ini semua denganmu tanpa banyak teori dan aplikasi-aplikasi yang harus kau terapkan dalam hidup kita. Ku tatap jauh kedalam wajahmu, tak dapat ku temui dimana kelemahan-kelemahanmu, sama seperti beberapa tahun lalu, saat aku terbangun dari tidurku dan kau satu-satunya zat yang membuatku merasa paling beruntung, beruntung mengenalmu dan beruntung menjadi bagian dari hidupmu. "Boleh ku ulang ucapanmu dengan sedikit koreksi dariku?" anggukan pelanmu tentu saja tanda kau setuju, hari ini aku hanya ingin kamu mendengar dan mengerti "Aku akan selalu merindumu dan aku hanya ingin membalas senyumanmu." Berdiri aku di sini, ku gantungkan segala asa yang penuh kepadamu, semoga kau tetap menjadi apa yang kau ingini dan menjadi apa yang ku mau dan di tempat ini kau selalu memelukku dengan hangat dengan penuh perhatianmu, senja.